Jumat, 20 Maret 2020

Belajar Manajemen Risiko dari Film ‘Hotel Rwanda’

Oleh Agung Widhianto, M.Sc
(Ketua Pandjer School – agung.widhianto@outlook.com)

Belajar Manajemen Risiko dari Film ‘Hotel Rwanda’

Tulisan ini terdiri atas 2 (dua) bagian. Pada bagian pertama mengulas secara ringkas intisari film Hotel Rwanda, sementara pada bagian kedua memberikan penjelasan tentang manajemen risiko yang relevan.

Film Hotel Rwanda merupakan skenario yang diambil dari pengalaman konflik interetnis yang terjadi pada tahun 1994 antara etnis Tutsi dan Hutu, tepatnya di Daerah Kigali, Rwanda. Konflik yang terjadi selama puluhan tahun dimulai pada masa penjajahan Belgia dimana penduduk dibedakan secara politik berdasarkan fisik. Etnis Tutsi memiliki kedudukan dalam birokrasi pemerintahan, sementara etnis Hutu termarjinalkan. Hal tersebut mengakibatkan penderitaan tragis bagi etnis Hutu selama kolaborasi politik dan ekonomi dikuasai oleh konglomerasi antara etnis Tutsi dan kolonial Belgia. Keadaan berubah ketika Belgia meninggalkan Rwanda dimana dukungan kekuasaan yang dimiliki etnis Tutsi hilang dan etnis Hutu mengambil alih pemerintahan. Pada titik tersebut, manifestasi konflik muncul ke permukaan dengan superordinasi etnis Hutu yang mensubordinasi etnis Tutsi atas nama balas dendam yang terpendam selama puluhan tahun. Sebagai respon kontradiksinya, etnis Tutsi melakukan serangkaian perlawanan terhada penindasan yang dilakukan etnis Hutu. Atas klaim kepemilikan Rwanda hanya untuk etnis Tutsi, ia dianggap pemberontak oleh etnis Hutu yang menguasai pemerintahan. Klaim legitimasi yang diwujudkan dalam konflik antara etnis Hutu dan etnis Tutsi mengakibatkan kekaucauan di Rwanda sehingga Negara tersebut pada situasi yang darurat.

Dalam keadaan dimana konflik melibatkan banyaknya korban yang dari kedua belah etnis, seorang Hutu yang menjadi direktur Hotel des Milles Collines di Rwanda menjadi pahlawan bagi etnis Tusi yang dibantai oleh etnis Hutu. Ia adalah Paul Rusesabagina yang memanfatkan posisinya untuk mengkonsolidasikan relasinya bersama tokoh-tokoh menentukan di Rwanda. Sumber daya relasi yang dimilikinya di Rwanda tidak mampu membantunya menolong etnis Tutsi atas nama kemanusiaan. Ia berjuang membantu etnis Tutsi untuk terlepas dari genosida yang sedang marak dilakukan etnis Hutu. Hotel yang dikelolanya digunakan sebagai tempat pengungsian dengan bantuan minimalis pasukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin Kolonel Oliver.

Konflik etnisitas tersebut membawa kerugian bagi kedua etnis yang berseteru. Banyaknya korban yang berjatuhan, kerugian ekonomi, instabilitas politik, ketegangan sosial, kerugian materil hingga krisis legitimasi membuat kesepakatan perdamaian terjadi antara etnis Hutu dan etnis Tutsi melalui berbagai upaya diplomasi yang difasilitasi oleh PBB.

Secara umum, risiko sebagai konsekuensi konflik etnis di Rwanda adalah sebagai berikut.

  1. Kerugian jiwa yang membunuh ribuan orang Hutu dan Tutsi, terutama korban perempuan dan anak-anak.
  2. Kerugian materil dimana aset pembangunan yang dimiliki Rwanda tidak dapat dioptimalkan karena konflik merusak barang-barang publik, seperti jalan raya, tempat ibadah, rumah sakit, hingga gedung perkantoran.
  3. Degradasi perekonomian dimana interaksi dan perputaran arus barang/jasa terhambat dan berada pada posisi yang paling memprihatinkan. Ketersediaan barang-barang publik menjadi langka dan proses ekonomi berjalan fluktuatif.
  4. Instabilitas politik setelah terbunuhnya presiden Rwanda yang diwarnai dengan potensi konflik yang besar di berbagai wilayah. Hal ini terjadi karena tidak ada otoritas yang absah sebagai pihak yang bertanggung jawab mengatur masyarakat.

Sebagai tokoh utama dalam film Hotel Rwanda, Paul Rusesabagina melakukan manajemen risiko sebagai berikut.
  1. Manajemen risiko preventif yang berguna dalam mengantisipasi atau setidaknya meminimalisasi konflik fisik antara etnis Hutu dan etnis Tutsi. Upaya Paul untuk mengubah fungsi hotel menjadi sebuah tempat pengungsian yang aman bagi etnis Tutsi layak dipandang sebagai persiapan ketidakpastian atas kedatangan etnis Hutu sewaktu-waktu. Paul mampu melakukan manajemen risiko tersebut karena ia memiliki kemitraan yang strategis bersama pemimpin pasukan perdamaian PBB dan pemimpin militer etnis Hutu. Strategi yang dikelola Paul untuk mengelola risiko terjadinya konflik dilakukan secara optimal.
  2. Manajemen risiko represif yang difokuskan pada upaya Paul menyelamatkan dirinya, hotel yang dikelolanya, dan para korban konflik dari ancaman kerugian yang nyata. Perlindungan yang dilakukan Paul bagi etnis Tutsi dilakukan secaa penuh, mulai dari ruang pengungsian, akomodasi, bahkan sebuah pertunjukkan untuk meminimalisasi risiko traumatic para korban. Secara bertahap, Paul berhasil menggunakan kemampuan komunikasinya dan diplomasinya untuk mengungsikan para etnis Tutsi ke tempat-tempat pengungsian yang dikoordinasi oleh PBB.

Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk memastikan stabilitas pasca konflik adalah sebagai berikut.
  1. Melakukan transisi pemerintahan dan stabilitasi politik sehingga Rwanda memiliki entitas yang absah dalam mengelola perbedaan kepentingan yang masif terjadi di dalam masyarkat.
  2. Melakukan pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan produktivitas dan menciptakan keteraturan sosial.
  3. Memastikan penegakan hukum terhadap segala bentuk konflik, baik manifest maupun laten terhadap perdamaian antara etnis Hutu dan etnis Tutsi.
  4. Melakukan pembangunan di berbagai bidang, terutama pembangunan fisik dengan tujuan mendukung percepatan pemenuhan kebutuhan publik, serta memastikan kerakomodasinya kepentingan etnis Hutu dan etnis Tutsi dalam proses pengambilan keputusan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar