Selasa, 14 April 2020

Dampak Kebijakan Lock-down bagi Anak-Anak

(Koordinator Sekolah Kepemimpinan Desa)


Penyebaran Covid-19 atau yang familiar disebut virus corona yang semakin meluas telah memaksa Pemerintah menetapkan kebijakan ‘lock-down’. Meski istilah ini masih diperdebatkan oleh banyak kalangan, baik dari sisi penggunaan istilah maupun dari sisi isi kebijakan, hal yang paling digelorakan di masyarakat ialah anjuran untuk tetap berada dirumah. Anjuran Pemerintah berupa ‘bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah’ rasanya sudah lazim ditemui di banyak tempat, terutama di media sosial dimana berita tentang corona seakan sangat menjenuhkan untuk diikuti. Namun demikian, kebijakan lock-down yang terakhir kali dinamai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Pemerintah pusat dinilai telah membawa dampak sosial dan ekonomi yang tak terduga bagi masyarakat di berbagai daerah, terlepas dari jumlah kasus yang dimiliki.

Dampak yang paling terasa ialah dampak ekonomi yang juga menjadi fokus utama Pemerintah untuk mengendalikan pelambatan ekonomi yang sangat memukul masyarakat miskin, terutama kalangan buruh dan pengusaha kecil. Sebagaimana disiarkan di berbagai media dengan memperhatikan analisis para ahli, jumlah pengangguran meningkat, pendapatan keluarga menurun, omzet pedagang di pasar menurun, dan meningkatnya sejumlah harga kebutuhan pokok. Ini yang saya kira mendorong Pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk mengalokasikan anggaran sosial untuk mengatasi dampak ekonomi virus corona yang begitu kentara. Namun, ada satu pertanyaan paling medasar mengenai hal tersebut. Apa benar bahwa dampak ekonomi adalah masalah paling serius atas diterapkannya kebijakan ‘lock-down’? Analisis saya sampai pada jawaban ‘tidak!’.

Saya setuju bahwa masalah ekonomi adalah hal yang sangat penting untuk dibahas. Namun karena hal ini sudah terlalu banyak dibahas oleh berbagai ahli dan pengamat, saya ingin berfokus pada dampak yang hampir diabaikan oleh Pemerintah, sementara dampak ini juga bukan hal yang remeh. Sebagai pegiat perlindungan anak, saya mengamati bahwa semenjak diterapkannya kebijakan ‘lock-down’, kekerasan terhadap anak berpotensi semakin banyak terjadi. Kebijakan untuk tetap di rumah saja yang tidak disikapi secara mawas diri dan sadar, justru dapat memberikan beban psikologis berupa rasa kejenuhan yang berlebihan yang dialami anak-anak.

Sama halnya dengan kebijakan belajar dari rumah dengan metode pembelajaran daring yang justru menjadi ironi karena sebelumnya anak-anak dilarang membawa handphone ke sekolah dan dibatasi menggunakannya saat di rumah. Perubahan sosial yang cepat ini membuat anak-anak harus beradaptasi dan dihadapkan pada situasi yang sangat menentukan setelah kebijakan tersebut usai. Kegagalan untuk memberikan pemahaman dan mendampingi anak-anak belajar secara online di tengah wabah Covid-19 sangat memungkinkan menghasilkan ketergantungan yang berlebihan pada teknologi. Alhasil, intisari dan makna pendidikan semakin luntur karena peran guru sebagai orangtua di sekolah mulai tergantikan. Hal ini pula yang saya pandang dapat memberikan dampak buruk bagi perlindungan anak karena minimnya kesadaran orang tua dan guru untuk memampukan anak-anak mereka dalam menggunakan media pembelajaran online secara bijak. Berikut ini saya coba uraikan dampak sosial kebijakan lock-down dari sudut pandang perlindungan anak:
  1. Renggangnya hubungan antara orang tua dan anak. Ini terjadi akibat pertentangan antara anjuran untuk belajar dari rumah bagi anak-anak dan anjuran untuk bekerja dari rumah untuk orang tua. Alih-alih dapat meningkatkan intensitas interaksi antara anak dan orang tua, justru kesenjangan antara keduanya yang terjadi karena masing-masing memiliki kesibukan yang berbeda.
  2. Minimnya fungsi kontrol orang tua. Pembelajaran online memang memberikan peluang bagi anak-anak untuk mengakses semua informasi yang ada di dunia maya, termasuk hal-hal sensitif yang belum layak diakses. Kesibukan orang tua untuk bekerja dan proses adaptasi pendidikan dari guru ke orang tua yang masih berlangsung membuat orang tua memiliki sedikit kemampuan untuk mengontrol anak-anak mereka dalam menggunakan internet.
  3. Ketergantungan pada internet. Oleh karena hampir setiap hari dituntut untuk mengakses materi pembelajaran dan tugas sekolah, anak-anak mengalami perubahan rutinitas belajar yang mencolok. Kegembiraan mereka belajar secara fisik di kelas tetap saja tidak dapat diperoleh melalui pembelajaran online. Kejenuhan sangat mungkin terjadi karena internet bukan hanya menyediakan fasilitas belajar, melainkan fasilitas untuk mencoba beragam permainan untuk menghilangkan kejenuhan mereka. Hasilnya, anak-anak lebih tergoda untuk bermain aplikasi permainan ketimbang mengerjakan tugas sekolah.
  4. Penurunan Daya Pikir. Pembelajaran secara online memang lebih praktis, terlebih dalam situasi seperti sekarang ini. Namun, ada kecenderungan buruk yang berbahaya bagi anak-anak jika hal tersebut tidak dikendalikan, yaitu peluang mereka untuk menggunakan daya nalar dalam membaca tulisan atau materi di internet, termasuk dalam mengkritisinya. Karena internet dipenuhi dengan hal-hal yang bernuansa cepat dan mudah, anak-anak didorong untuk menggunakan jalan pintas dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Terlebih karena pengawasan dari guru hampir tidak ada. Oleh sebab itu, ini dapat menurunkan rasa keingintahuan dan tingkat kritis anak-anak dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan esai, apalagi menyelesaikan persoalan-persoalan yang memerlukan kerja sama dengan orang lain melalui diskusi dan kerja kelompok.

Meski saya tidak memiliki data akurat tentang kekhawatiran saya tersebut, saya berpendapat bahwa apa yang saya paparkan bisa jadi benar karena sejujurnya ia berangkat dari keresahan pribadi dan sosial yang saya miliki belakangan ini. Kalaupun itu keliru, saya sangat memaklumi karena ia hanya sebatas kekhawatiran dan pengamatan subjektif saya yang bisa jadi di daerah-daerah tertentu atau konteks lain bisa berbeda. Meski demikian, hal utama yang ingin saya tekankan ialah bahwa kebijakan ‘lock-down’ juga memberikan dampak sosial bagi anak-anak yang sebagian besar adalah pelajar. saya berharap agar Pemerintah Pusat dan Daerah juga memberikan perhatian lebih besar dan nyata bagi perkembangan anak-anak yang bisa dibilang adalah korban atas keadaan Covid-19. Saya juga berharap agar orang tua dan pihak sekolah dapat memiliki kesepahaman dalam menerapkan pendidikan jarak jauh tanpa membuka ruang risiko yang buruk bagi anak-anak berupa bergesernya peran keluarga dan sekolah oleh teknologi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar